Senin, 07 Maret 2011

Askep ISPA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NEONATUS DENGAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN

A. Pengertian
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 450).
Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi organisme asing (Whaley and Wong; 1991; 1418).

B. Angka kejadian dan diagnosis
Pada rumah sakit umum yang telah menjadi rumah sakit rujukan terdapat 8,76 %-30,29% bayi dan neonatal yang masih mengalami infeksi dengan angka kematian mencapai 11,56%-49,9%. Pengembangan perawatan yang canggih mengundang masalah baru yakni meningkatnya infeksi nosokomial yang biasanya diakhiri dengan keadaan septisemia yang berakhir dengan kematian (Victor dan Hans; 1997; 220).
Diagnosis dari penyakit ini adalah melakukan kultur (biakan kuman) dengan swab sebagai mediator untuk menunjukkan adanya kuman di dalam saluran pernafasan. Pada hitung jenis (leukosit) kurang membantu sebab pada hitung jenis ini tidak dapat membedakan penyebab dari infeksi yakni yang berasal dari virus atau streptokokus karena keduanya dapat menyebabkan terjadinya leukositosis polimorfonuklear (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 453).

C. Etiologi dan karakteristik
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran pernafasan, daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley and Wong; 1991; 1419).
Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A -hemolityc streptococus, staphylococus, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis, mycoplasma dan pneumokokus.
Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu.
Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas.
Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi, anemia, kelelahan. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi, asthma serta kongesti paru.
Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong; 1991; 1420).

D. Manifestasi klinis
Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi hisung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 451).

E. Terapi dan Penatalaksanaan
Tujuan utama dilakukan terapi adalah menghilangkan adanya obstruksi dan adanya kongesti hidung pergunakanlah selang dalam melakukan penghisaapan lendir baik melalui hidung maupun melalui mulut. Terapi pilihan adalah dekongestan dengan pseudoefedrin hidroklorida tetes pada lobang hidung, serta obat yang lain seperti analgesik serta antipiretik. Antibiotik tidak dianjurkan kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret.
Penatalaksanaan pada bayi dengan pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup, dengan demikian sekret dapat mengalir dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 452).

F. Diagnosis banding
Penyakit infeksi saluran pernafasan ini mempunyai beberapa diagnosis banding yaitu difteri, mononukleosis infeksiosa dan agranulositosis yang semua penyakit diatas memiliki manifestasi klinis nyeri tenggorokan dan terbentuknya membrana. Mereka masing-masing dibedakan melalui biakan kultur melalui swab, hitungan darah dan test Paul-bunnell. Pada infeksi yang disebabkan oleh streptokokus manifestasi lain yang muncul adalah nyeri abdomen akuta yang sering disertai dengan muntah (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 454).

G. Tanda dan gejala yang muncul
1. Demam, pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.
2. Meningismus, adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk, terdapatnya tanda kernig dan brudzinski.
3. Anorexia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi susah minum dan bhkan tidak mau minum.
4. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit.
5. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus.
6. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric.
7. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.
8. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.
9. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong; 1991; 1419).

H. Pengkajian terutama pada jalan nafas
Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola, kedalaman, usaha serta irama dari pernafasan.
Pola, cepat (tachynea) atau normal.
Kedalaman, nafas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen.
Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin.
Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.
Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum (Whaley and Wong; 1991; 1420).

I. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab); hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman, pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia dan pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan (Victor dan Hans; 1997; 224).

J. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul, tujuan dan intervensi
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi pada saluran pernafasan, nyeri.
Tujuan:
Pola nafas kembali efektif dengan kriteria: usaha nafas kembali normal dan meningkatnya suplai oksigen ke paru-paru.
Intervensi:
a. Berikan posisi yang nyaman sekaligus dapat mengeluarkan sekret dengan mudah.
b. Ciptakan dan pertahankan jalan nafas yang bebas.
c. Anjurkan pada keluarga untuk membawakan baju yang lebih longgar, tipis serta menyerap keringat.
d. Berikan O2 dan nebulizer sesuai dengan instruksi dokter.
e. Berikan obat sesuai dengan instruksi dokter (bronchodilator).
f. Observasi tanda vital, adanya cyanosis, serta pola, kedalaman dalam pernafasan.

2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi mekanik dari jalan nafas oleh sekret, proses inflamasi, peningkatan produksi sekret.
Tujuan:
Bebasnya jalan nafas dari hambatan sekret dengan kriteria: jalan nafas yang bersih dan patent, meningkatnya pengeluaran sekret.
Intervensi:
a. Lakukan penyedotan sekret jika diperlukan.
b. Cegah jangan sampai terjadi posisi hiperextensi pada leher.
c. Berikan posisi yang nyaman dan mencegah terjadinya aspirasi sekret (semiprone dan side lying position).
d. Berikan nebulizer sesuai instruksi dokter.
e. Anjurkan untuk tidak memberikan minum agar tidak terjadi aspirasi selama periode tachypnea.
f. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan perparenteral yang adekuat.
g. Berikan kelembaban udara yang cukup.
h. Observasi pengeluaran sekret dan tanda vital.
3. Cemas berhubungan dengan penyakit yang dialami oleh anak, hospitalisasi pada anak
Tujuan:
Menurunnya kecemasan yang dialami oleh orang tua dengan kriteria: keluarga sudah tidak sering bertanya kepada petugas dan mau terlibat secara aktif dalam merawat anaknya.
Intervensi:
a. Berikan informasi secukupnya kepada orang tua (perawatan dan pengobatan yang diberikan).
b. Berikan dorongan secara moril kepada orang tua.
c. Jelaskan terapi yang diberikan dan respon anak terhadap terapi yang diberikan.
d. Anjurkan kepada keluarga agar bertanya jika melihat hal-hal yang kurang dimengerti/ tidak jelas.
e. Anjurkan kepada keluarga agar terlibat secara langsung dan aktif dalam perawatan anaknya.
f. Observasi tingkat kecemasan yang dialami oleh keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Catzel, Pincus & Ian robets. (1990). Kapita Seleta Pediatri Edisi II. alih bahasa oleh Dr. yohanes gunawan. Jakarta: EGC.

Whalley & wong. (1991). Nursing Care of Infant and Children Volume II book 1. USA: CV. Mosby-Year book. Inc

Yu. H.Y. Victor & Hans E. Monintja. (1997). Beberapa Masalah Perawatan Intensif Neonatus. Jakarta: Balai penerbit FKUI.

Askep RHD

BAB 1
Konsep Dasar

A. Definisi
RHD atau Penyakit jantung rheumatic adalah penyakit yang ditandai dengan kerusakan pada katub jantung akibat serangan karditis rheumatic akut yang berulang kali ( arif mansjoer, 1996 )
Penyakit jantung rheumatic adalah suatu komplikasi yang biasa ditemukan pada demam rheumatic, dimana satu atau beberapa katub jantung mengalami penyempitan, terutama katub metral

B. Etiologi
Disebabkan oleh karditis rheumatic akut dan fibrosis, dan beberapa factor predisposisi lainnya, seperti :
1) Faktor Genetik
Banyak penyakit jantung rheumatic yang terjadi pada satu keluarga maupun pada anak-anak kembar, meskipun pengetahuan tentang factor genetic pada penyakit jantung rheumatic ini tidak lengkap, namun pada umumnya disetujui bahwa ada factor keturunan pada penyakit jantung rheumatic, sedangkan cara penurunannya belum dapat dipastikan
2) Jenis Kelamin
Dahulu sering dinyatakan bahwa lebih sering didapatkan pada anak wanita dibanding anak laki-laki, tetapi data yang lebih besar menunjukkan tidak ada perbedaan jenis kelamin. Kelainan katub sebagai gejala sisa penyakit jantung rheumatic menunjukkan perbedaan jenis kelamin. Pada orang dewasa gejala sisa berupa stenosis mitral sering didapatkan pada wanita. Sedangkan insufisiensi aorta lebih sering ditemukan pada laki-laki
3) Golongan Etnik dan Ras
Di Negara-negara barat umumnya stenosis mitral terjadi bertahun-tahun setelah penyakit jantung rheumatic akut, tetapi di India menunjukkan bahwa stenosis mitral organic yang berat sering kali tejadi dalam waktu yang singkat, hanya 6 bulan – 3 tahun.
4) Umur
Umur agaknya merupakan factor predisposisi terpenting pada timbulnya penyakit jantung rheumatic, penyakit ini paling sering mengenai anak berumur 5-18 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun, tidak biasa ditemukan pada anak antara umur 3-5 tahun dan sangat jarang sebelum anak berumur 3 tahun atau setelah 20 tahun

C. Manifestasi klinis
Pada penyakit jantung rheumatic ini tidak ada gambaran klinis secara khas, tapi ada beberapa gejala klinis yang muncul di antaranya :
I. Demam
II. Malaise
III. Anorexia
IV. BB menurun
V. Epistaksis
VI. Nyeri dada
VII. Sakit perut

D. Insiden
Menemukan jumlah pasien penyakit jantung rheumatic yang di rawat di Rumah Sakit dibanding semua pasien jantung dewasa berkisar antara 17-20%, kecuali yogyakarta 32% ( Hanafiah, 1980 )
Melaporkan angka 9-38% ketahanan pasien penyakit jantung rheumatic di Surabaya setelah di adakan follow up sesudah 5 tahun menunjukkan angka mortalitas 42%, penyakit jantung di Indonesia masih merupakan penyakit jantung utama yang paling banyak di temukan dibawah umur 40 tahun ( Saleh, 1982 )
Penyakit jantung reumatik merupakan 25-40% semua penyakit jantung pada semua umur ( taranta dan markowitz, 1981)
Di yogyakarta pada dokumen medis RSUD Dr. Sardjito tahun 1993 di temukan pada anak umur 0-14 tahun sebanyak 8,3% dari seluruh kelainan jantung.(poestikas 1996)

E. Komplikasi
Penyakit jantung rheumatic merupakan penyebab utama cacat dan kematian
i. Adesi Pericardium
ii. Kebocoran Katub
iii. Stenosis Mitral


F. W O C






G. Pemeriksaan penunjang
 EKG
 Foto roentgen dada
 ASTO (anti –streptosilin)
H. Penatalaksanaan
a) Pencegahan
 Menjaga kesehatan
 Perbaikan keadaan lingkungan
b) Pengobatan
 Pemberan anti biotic
 Tirah baring dan istirahat.

BAB 2
Asuhan Keperawatan Teori
A. Pengkajian

 Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, dan alamat
 Keluhan utama
Kaji alasan masuk RS atau keluhan yang paling di rasakan klien saat dilakukan pengkajian
 Riwayat penyakit sekarang
Kaji saat kejadian, sifat-sifat terjadinya, lamanya, gejalanya, factor yang memperberat dan meringankan timbulnya gangguan, dengan menggunakan tekhnik PQRST
 Riwayat penyakit lalu
Untuk mengetahui apakah klien dulu pernah mengalami masalah yang dialami seperti sekarang ini
 Riwayat penyakit keluarga
Kaji penyakit Orang tua, saudara kandung, anggota keluarga yang lain yang mempunyai resiko kesehatan
 Pemeriksaan fisik
Head to toe untuk mengetahui keadaan secara umum keadaan klien dan gejala gejala yang muncul

C. Diagnosa Keperawatan
Untuk mengetahui diagnosa yang muncul pada masalah yang dialami saat ini

D. Perencanaan
• Prioritas masalah
Untuk mengetahui masalah utama yang muncul pada klien
• Tujuan
Untuk mengetahui tujuan yang ingin dicapai dari prioritas masalah
• Kriteria hasil
Hasil yang dicapai dari masalah atau tujuan
• Intervensi dan rasional
Mengetahui tindakan yang akan dilakukan dan mengetahui rasionalnya
• Evaluasi
Untuk mengetahui hasil yang di capai dari tindakan yang telah dilakukan

BAB 3
Asuhan Keperawatan Kasus

A. Pengkajian
o Identitas klien
Nama : An .x
Umur : 14 Tahun
Jenis kelamin : Laki laki
Alamat : Bojoloro
Pekerjaan : Pelajar
Pendidikan : MTS
Tanggal MRS : 10 Maret 2008
Diagnosa Medis : RHD
No Reg : 0004
Tanggal Pengkajian : 11 maret 2008

o Keluhan Utama
Klien mengatakan nyeri di daerah dada
o Riwayat Penyakit Sekarang
Sebelum pasien di bawa ke RS, klien merasa nyeri di daerah dada kurang lebih 2 hari yg lalu dengan skala nyeri 6
o Riwayat Kesehatan Lalu
Pasien mengatakan bahwa dia pernah mengalami infeksi pada jantungnya, dan sembuh dengan pengobatan,
o Pemeriksaan fisik
- Keadaan umum : keadaan umum lemah, klien meringis kesakitan
Neurologist : compus mentis 456
- Tanda Tanda vital
Tekanan darah : 100/70 mmHg
Nadi : 64 x/menit
Suhu : 36,° C
RR : 16 x/menit
- Pemeriksaan kepala dan leher
Kepala berbentuk simetris, rambut lurus, warna rambut hitam, kulit kepala sedikit kotor, tidak ada lesi
- Pemeriksaan mata dan penglihatan
Bulu mata hitam, sclera putih, penglihatan normal
- Pemeriksaan thorax
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Terdapat nyeri tekan
Auskultasi : Ada suara tambahan
- Sistem pernafasan
Sesak / tidak, observasi RR
- Sistem pencernaan
BAK, frequensi, warna dan peristaltik

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d penekanan pada rongga dada
2. Gangguan perfusi jaringan b.d anemia
3. Gangguan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anorexia
4. Gangguan pola nafas b.d oedema paru
5. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d dehidrasi
6. Cemas (keluarga) b.d kurangnya pengetahuan tentang penyakit anaknya
7. Cemas (kx) b.d perpisahan dengan teman
8. Cemas (kx) b.d kurangnya pengetahuan tentang prosedur tindakan
9. Gangguan pola aktifitas b.d suplay O2 tidak seimbang
C. Perencanaan

Diagnosa 1 Prioritas masalah Gangguan rasa nyaman nyeri b.d penekanan pada rongga dada
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3 x 24 jam nyeri dapat berkurang atau hilang
Kriteria Hasil
Kx mengatakan nyerinya sudah berkurang dengan skala nyeri 2
Intervensi dan Rasional
 Catat keluhan nyeri,termasuklokasi,lamanya,intensitas (skala 1-10)
R/ untuk mengetahui skala nyeri dan membandingkan dengan nyeri sebelumnya.
 Berikan obat sesuai indikasi
R/ mungkin pilihan narkotik untuk menghilangkan nyeri ringan/hebat.
Evaluasi
Kx sudah tidak meringis kesakitan lagi.

Diagnosa 2 Prioritas Masalah Gangguan perfusi jaringan b/d sirkulasi darah menurun.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 2 x 24 jam perfusi dapat berkurang atau sembuh
Kriteria Hasil
Klien menunjukkan perbaikan perfusi jaringan, yang dibuktikan dengan kestabilan TTV
Intervensi dan Rasional
 Awasi tanda vital dengan cermat, kaji nadi untuk frekuensi, irama, volume, catat hipotensi, lemah
R/ Pengendapan dan sabit pembuluh darah perifer dapat menimbulkan obliterasi atau partial pembuluh darah dengan penurunan perfusi jaringan pada jaringan sekitar
 Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat, sianosis, pelambatan pengisian kapiler
R/ Perubahan menunjukkan penurunan sirkulasi / hipoksia yang meningkatkan okulasi kapiler
 Awasi pemeriksaan lab, GDA, darah lengkap, AST (SGOT) / ALT (SGPT), CPK
R/ Penurunan perfusi jaringan dapat menimbulkan infark terhadap organ jaringan

Diagnosa 3 Prioritas Masalah Cemas ( keluarga ) b.d kurang pengetahuan tentang penyakit yang di alami anaknya
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1 x 8 jam keluarga sudah tidak cemas lagi
Kriteria Hasil
Keluarga mengatakan sudah tidak cemas lagi
Intervensi dan Rasional
 Memberikan informasi pengetahuan tentang penyakit anaknya
R/ memberikan pemahaman tentang penyakit yang di alami oleh anaknya
 Libatkan keluarga dalam rencana perawatan dan dorong partisipasi maksimum pada rencana pengobatan
R/ keterlibatan akan membantu memfokuskan perhatian pada pasien dalam arti positif dan memberikan rasa kontrol
Evaluasi
 Keluarga pasien mengatakan sudah tidak cemas lagi
 Keluarga pasien kelihatannya sudah tidak cemas dan tidak gelisah lagi

Diagnosa 4 Prioritas Masalah Cemas ( anak ) b.d kurang pengetahuan tentang prosedur tindakan
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1 x 8 jam pasien sudah tidak cemas lagi
Kriteria Hasil
Pasien mengatakan sudah tidak cemas lagi
Intervensi dan Rasional
 Jelaskan dasar patologi abnormalitas katub
R/ pasien harus mempunyai dasar pemahaman tentang abnormalitas katubnya sendiri, dan konsekuensi hemodinamik, kerusakan sebagai dasar penjelasan rasional berbagai aspek pengobatan
 Jelaskan rasional pengobatan dosis, efek samping dan pentingnya minum obat dan mencegah penghentian sendiri pada obat
R/ dapat menjadi indikatif derajat takut yang di alami pasien
Evaluasi
 Pasien mengatakan sudah tidak cemas lagi
 Pasien tidak tampak gelisah lagi



BAB 4
PENUTUP

A. Kesimpulan
RHD atau Penyakit jantung rheumatic adalah penyakit yang ditandai dengan kerusakan pada katub jantung akibat serangan karditis rheumatic akut yang berulang kali, Penyakit jantung rheumatic adalah suatu komplikasi yang biasa ditemukan pada demam rheumatic, dimana satu atau beberapa katub jantung mengalami penyempitan, terutama katub metral, penyakit jantung rheumatic merupakan penyakit yang masih banyak di berbagai Negara, termasuk Indonesia, penyakit ini biasanya ditemukan pada orang di bawah 40 tahun, dan mempunyai komplikasi stenosis, dan kebocoran katub terutama katub metral. Penyakit ini bisa di tangani dengan cara pemberian antibiotikdan bisa sembuh total


B. Saran
 Kita sebagai perawat harus memahami masalah penyakit jantung reumatic
 Sebagai perawat harus tahu tentang penyebab terjadinya penyakit jantung reumatic
 Sebagai perawat harus mengetahui cara perawatan termasuk HE pada penyakit jantung reumatic
DAFTAR PUSTAKA

 Doenges Marylin,E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3, Jakarta, EGC

 Mansjoer arif dkk, 2002, Kapita selekta kedokteran, edisi 3 jilid 1, Jakarta, Media aesculapius

 Prof, DR Tjokronegoro, 2000, Ilmu penyakit dalam, Jakarta, Balai penerbit FKUI 2001 edisi 3 (1027)

 DR Rusepno Hassan dkk, 1985, Ilmu kesehatan anak 2, Jakarta, Infomedika Jakarta (734)